Sebuah Refleksi BDYD 2015

Di Balik BDYD 2015

Saya selalu percaya setiap perjumpaan adalah hadiah sederhana dari Tuhan, memperkenalkan saya pada orang-orang baru sekaligus dunia baru dan cara Tuhan membuka mata saya pada hal-hal yang tak terduga, penuh kejutan dan sejuta kebaikan di dalamnya..

Dan perjumpaan saya pada sosok yang luar biasa, RD Antonius Haryanto, sekretaris eksekutive Komisi Kepemudaan KWI adalah awal yang baik pula bagi saya. Karena lewat beliau saya mendapat kesempatan yang luar biasa sehingga bisa mengikuti BDYD 2015 ini (selain itu ada Teh Ana juga sih yang ngajakin..hehe..). Secara, saya bukan warga Bandung, tidak terdaftar sebagai umat di salah satu paroki di Keuskupan Bandung, saya hanya penduduk sementara di Bandung. Yaa, saya sedang melanjutkan sekolah saya di sini. Puji Tuhan, berkesempatan mengikuti BDYD 2015 ini plus dapat kartu sakti, free pass VIP, so bisa menyaksikan acara lebih dekat lagi.. (thanks to Rm Hary 😀 hehe)

Perjumpaan berharga lainnya yaitu saya mendapat teman baru, Mbak Ana, pengurus KomKep Bandung, yang baik hati ngajakin ikut acara ini, juga teman-teman pengurus Komkep lainnya, terima kasih atas perkenalannya..

Bagi saya, orang-orang baru adalah tempat belajar banyak hal baru; selalu ada hal-hal baru yang menyenangkan untuk dilakukan dan semoga hal baru yang saya dapatkan ini, dapat saya bagikan kembali buat teman-teman KomKep di Palangka Raya..

BDYD 2015

Bandung Diocese Youth Day atau yang lebih dikenal BDYD diadakan tanggal 17-18 Oktober 2015. Ini adalah BDYD ketiga yang dilaksanakan oleh Komisi kepemudaan Keuskupan Bandung. Acara dilaksanakan di dua tempat yaitu di aula BTC (17 Oktober) dan Sabuga Bandung (18 Oktober). BDYD 2015 dihadiri oleh ribuan OMK se-Keuskupan Bandung baik dari paroki, sekolah maupun kategorial yang ada di Keuskupan Bandung.

BDYD 2015 mempunyai tujuan menumbuhkembangkan rasa kebanggaan sebagai OMK, mengembangkan jejaring sebagai satu kesatuan OMK di Keuskupan Bandung dan menyadarkan tugas perutusan sebagai OMK. BDYD adalah suatu perayaan iman, di mana OMK dapat berkumpul bersama, mengenal, meneguhkan dan berbagi satu sama lain.

Pada hari pertama, acara diadakan di aula BTC. Acara yang dimulai pada sore ini, diawali dengan perkenalan, games dan pembagian kelompok; tujuannya agar OMK dapat saling mengenal dan berbaur dengan OMK dari paroki lainnya. Ada juga penampilan cabaret dari Team KomKep Bandung. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sharing dan talk show dari berbagai nara sumber yaitu Dr. Share, Sekar Mawar, Riko Ariefano. Hari pertama ditutup dengan Adorasi, sebelumnya setiap peserta diajak merefleksikan kembali Sepuluh Perintah Allah yang actual dengan kehidupan OMK saat ini.

Hari kedua BDYD 2015 diawali dengan Misa Kudus yang dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. Kemudian setelah misa acara dilanjutkan dengan acara indoor yaitu drama musikal yang dibawakan secara apik oleh teman-teman OMK. Dukungan lighting juga menambah semarak acara. Setelah acara indoor selesai, seluruh peserta BDYD 2015 diajak melihat-lihat expo OMK yang digelar di halaman Sabuga. Ada stand-stand yang menyajikan informasi seputar kegiatan OMK dan kategorial, games menarik serta penampilan kreativitas dari masing-masing paroki seperti band dan dance.

Tentunya, theme song BDYD bergema di Sabuga. Menularkan api semangat bagi saya dan saya yakin bagi semua yang hadir di tempat itu juga.

Semoga BDYD 2015 membawa semangat persaudaraan dan solidaritas di antara sesama rekan muda dan semakin menambah kecintaan pada Gereja sehingga OMK mampu mewujudnyatakan dalam karya dan cinta kasih.

Proficiat kepada seluruh panitia, salut atas usaha dan kerja kerasnya, semoga selalu semangat dalam karya pelayanan orang muda..

Yang Tertinggal…

Bisa dibayangkan bagaimana keseruannya bukan? Sekali lagi, saya bersyukur karena bisa berproses dalam acara ini. Bersuka cita bersama ribuan OMK Keuskupan Bandung dan menjadi saksi kerja keras seluruh panitia karena acara ini sukses membuat semua yang hadir bersemangat muda #kanluOMKjuga

Memang tidak semua sesi acara BDYD saya ikuti, saya mulai mengikuti sejak sesi Riko Ariefano pada hari pertama. Koh Riko menyampaikan sharingnya dengan baik dan saya terkesan dengan apa yang disampaikannya. Pernyataan Koh Riko yang mengusik hati saya berbunyi seperti ini.. ‘kamu tidak akan pernah bisa memberi, jika kamu tidak punya apa-apa’.. #makjleb

Sebagai OMK kadang kala kita menuntut banyak hal dari Gereja, namun lupa memberi untuk Gereja, untuk pelayanan kita. Kita lupa bahwa kita tidak bisa memberi jika kita tidak punya apa-apa. Kita tidak bisa melayani, jika kita tidak punya hati untuk melayani. Bahkan kita tidak bisa membagi hal-hal yang kecil, jika kita tidak punya bekal untuk dibagikan kepada OMK yang kita dampingi. Lalu bagaimana caranya supaya kita punya ‘sesuatu’? Bukankah yang kita cari adalah Yesus? Bukankah segala sesuatu itu juga ada di dalam Yesus?

Dari sharingnya Koh Riko mengajak kita semua untuk setia pada hal-hal yang sederhana, yaitu doa, membaca firman Tuhan dan mengikuti Ekaristi. Karena dengan itu semua, kita menjadi lebih dekat dengan Sang Segala Sumber. Menjalin relasi dengan Tuhan adalah hal yang terutama, menimba segala macam pengetahuan dan kebaikan sebagai bekal hidup kita. Berdoa sesering mungkin, belajar dari firmanNya dan mengikuti ekaristi bahkan jika mungkin setiap hari adalah bentuk kecintaan kita selaku muridNya dan usaha kita untuk lebih dekat denganNya. Semuanya itu adalah bekal kita untuk melayani Tuhan dengan sukacita.

Karena bagaimana mungkin kita melayani, jika kita tidak punya kecintaan dan relasi yang akrab dengan Tuhan? Bagaimana mungkin kita melayani jika kita tidak membekali diri dengan hal-hal yang baik? Mari buka hati, mengisi diri dan mulai melayani, mulai berbagi.. karena dengan memberi, kita pun menerima..

Selain itu, saya kembali terusik dengan isi khotbah yang disampaikan oleh Bapak Uskup Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. Semua orang ingin menjadi orang besar. Menjadi yang terbesar berarti menjadi yang terbaik. Tentunya jabatan dan kekuasaan adalah sarana untuk memuliakan Tuhan. Menjadi besar tidaklah instan, sebuah hasil dari proses dan usaha serta perkataan yang konkrit. Sebagai OMK kunci utama menjadi besar adalah menahan diri dan menata diri. Menahan diri artinya hidup cukup dan sederhana, menata diri adalah mengikuti perintah Tuhan.

‘’Barangsiapa ingin menjadi yang besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu’’(Mrk 10:43)

Memang benar bahwa hal yang besar itu dimulai dari yang sederhana yang dilakukan dengan setia. Jika kita mau setia melayani, niscaya kebaikan akan datang kembali kepada kita dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi orang besar. Tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan, waktu misalnya. Tetapi yakinlah, jika kita mengorbankan waktu kita untuk melayani, Tuhan akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik yang tidak pernah terfikirkan oleh kita karena kita telah memberikan yang terbaik dari yang kita punya, meskipun hanya waktu.

Lalu masihkah kita berdiam diri saja? Inilah saatnya menanggapi panggilan Tuhan..

Datanglah dan pergilah, kamu diutus !!! Jangan takut menjadi orang besar! Sekarang dan mulai saat ini !!!

Semoga..

Selamat berkarya.. Selamat melayani..

Tuhan memberkati..

Oleh Lusia Natalia Dewi Darajati

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *