PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA MERAJUT KEMBALI RELASI DAN KOMUNIKASI YANG HARMONIS ANTAR SESAMA ANGGOTA KELUARGA

  1. Dosa dan Pengampunan dalam Hidup Manusia

Dosa dan pengampunan merupakan dua realita dalam kehidupan manusia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain seperti halnya rahmat dan dosa. Dimana ada dosa di situ ada rahmat Allah. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh St Paulus: ”…dimana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah limpah” (Rom 5, 20b). Apa yang ditegaskan oleh St Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma ini bukanlah suatu ajakan atau seruan agar kita berlomba lomba berbuat dosa supaya rahmat Allah melimpah dalam hidup kita. Tidak!

Ungkapan St Paulus itu mau menegaskan kepada kita bahwa Allah sungguh Maha belaskasih dan Maha pengampun bagi kita manusia yang berdosa ini. Di situ tersirat suatu undangan kepada kita untuk datang kepadaNya bila kita jatuh kedalam dosa dan bahwa Allah tidak pernah menutup ”pintu” rahmat dan ”pintu” kerahimanNya bagi kita para pendosa ini. Dari sisi lain, manusia diingatkan akan pentingnya untuk membebaskan diri dari kuasa dosa melalui pertobatan dan membiarkan rahmat Allah menguasai hidupnya sehingga hidupnya akan mengalami syaloom, damai sejahtera dan keselamatan.

  1. Kerahiman Allah mendorong Manusia untuk bersikap Rahim

Pengalaman akan kasih, kerahiman dan pengampunan Allah yang demikian besar itu pada gilirannya harus mendorong manusia untuk memiliki sikap rahim dan belas kasih kepada sesama dengan kesediaan untuk saling mengampuni satu sama lain: ”ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk 6, 37c). Pengampunan yang dilakukan dengan tulus akan membawa kepada suatu perubahan dan pembaharuan hidup. Orang akan merasa dibebaskan dari beban dosa dan kesalahan; akan terjadi suatu rekonsiliasi atau suatu pendamaian, suatu ”penyembuhan” dari ”luka-luka” dosa dan dari sakit hati sehingga hidup dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama akan berada dalam keadaan utuh/baik kembali seperti sediakala.

Dengan kata lain, pengampunan memampukan manusia untuk merajut kembali relasi yang telah rusak akibat ketegaran hati, kesombongan, keangkuhan dan egoisme pribadi. Pengampunan menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya yang mudah ”jatuh” ke dalam dosa dan kesalahan, karena itu ia perlu utuk ”bangun” kembali agar tidak tetap berkubang dalam ”kejatuhan” itu. Kesediaan untuk saling mengampuni adalah ”pintu” masuk untuk membangun kembali relasi harmonis antara sesama.

  1. Pengampunan ditumbuhkan dalam Keluarga

Pengampunan sebagai suatu kebajikan hidup pertama tama harus ditumbuh kembangkan dalam keluarga dalam relasi antar sesama anggota keluarga: antara suami-istri, orangtua-anak, adik-kakak. Keluarga adalah tempat pertama dimana interaksi atau perjumpaan antara sesama manusia mengambil bentuknya yang paling intens, paling ”dalam”, karena itu kemungkinan terjadinya berbagai macam benturan dalam relasi antar sesama juga akan mengambil tempatya pertama-tama di dalam keluarga. Orang bijak mengatakan: ”Selama pintu maaf masih terbuka, selama itu pula hidup bersama akan berlangsug; sebaliknya bila pintu maaf sudah tertutup maka hidup bersama akan berakhir”. Apa yang dikatakan oleh orang bijak ini benar. Ketika orang tidak mau lagi saling mengampuni berarti dia sudah menutup pintu hatinya untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya dan konsekuensinya dia tidak lagi mau membangun hidup bersama dengan orang lain. Hal ini paling kongkret bisa terjadi dalam relasi antara suami-istri. Cukup banyak kisah yang menceritakan kepada kita pasangan suami-istri akhirnya berpisah dan bahkan dalam kasus yang berat akhirnya mereka mengambil kesepakatan untuk mengakhiri hubungan yang sudah sekian lama diusahakan dan diperjuangkan karena salah satu atau kedua belah pihak tidak mau memberikan uluran tangan dan membuka pintu maaf untuk pasangannya atas kesalahan yang pernah dibuatnya. Mengapa orang tidak mau mengampuni orang lain bahkan orang yang selama ini mereka cintai: istri, suami atau anak-anak sendiri? Jawabnya sangat sederhana: cinta telah berubah menjadi benci; antara cinta dan benci perbedaannya sangat tipis dan kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa orang yang paling membenci seseorang adalah orang yang paling mencintai sebelumnya.

Suami atau istri yang sebelumnya demikian mencintai pasangannya bisa berubah menjadi orang yang demikian membenci pasangannya. Karena itulah untuk mengurangi atau menghilangkan rasa benci yang sering muncul akibat kesalahan-kesalahan kecil tetapi yang sifatnya berulang-ulang, usaha dan kesediaan untuk mau saling memaafkan dan memberi maaf adalah ”obat” manjur untuk memulihkan kembali relasi kepada situasi yang normal. St. Paulus memberikan nasehat agar kita bersedia untuk saling mengampuni satu dengan yang lain karena Tuhan lebih dahulu telah mengampuni kita. Pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan menjadi dasar atau landasan yang kuat untuk memberikan pengampunan atau untuk saling mengampuni satu sama lain: ”Ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian” (Kol 3, 13).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus bahkan dalam formulasi yang lebih tegas dan keras. Tuhan Yesus tidak hanya meminta supaya para pendengarnya saling mengampuni ketika mereka berbuat salah atau dosa, tetapi lebih dari itu Dia menuntut agar mereka memiliki semangat atau jiwa belas kasih dan kemurahan hati yang tanpa batas kepada saudara-saudarinya dengan kesediaan untuk saling mengampuni dengan pengampunan yang tidak terbatas. ”Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia”.

Pengampunan tidak bisa dihitung dan dibatasi oleh jumlah angka, juga tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. ”…Aku berkatpengampunana kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Luk 18, 22). Kapan, dimana dan dengan siapa pun kita harus siap untuk saling mengampuni dan memberi ampun. Itulah semangat kasih yang harus dimiliki oleh setiap pengikut Yesus yang membedakan mereka dari orang-orang lain yang bukan pengikutNya. Kita dikenal sebagai murid-murid Yesus bila kita hidup dalam semangat saling mengampuni satu sama lain, semangat yang didasarkan atas kasih: ”Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15, 12).

  1. Pribadi Pengampun: Nelson Mandela dan Johanes Paulus II

Contoh pribadi yang dapat kita jadikan sebagai inspirasi atau model dalam soal pengampunan adalah Nelson Mandela dan Johanes Paulus II. Nelson Mandela dikenal sebagai pejuang Kulit Hitam yang memperjuangkan kesamaan antara warga kulit putih dan warga kulit hitam di negaranya, Afrika Selatan. Ia dengan tegas dan berani melawan politik apartheid yang diterapkan oleh penguasa kulit putih yang menempatkan warga kulit hitam sebagai warga negara kelas – 2 dengan pembatasan menyangkut hak dan privelege yang mereka miliki. Mandela berjuang dengan keras agar politik supremasi kulit putih atas warga kulit hitam dihapus dan semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Karena perjuangannya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang tidak mengenal kompromi itu, Mandela akhirnya dipenjarakan selama 27 tahun dengan status sebagai tahanan politik.

Setelah dibebaskan dari penjara – berkat tekanan politik dari seluruh dunia terhadap pemerintahan kulit putih – Mandela terjun kembali ke kancah politik dan terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan. Hal luar biasa yang dibuat oleh Mandela setelah dia menjadi Presiden adalah melakukan tindakan rekonsiliasi atau perdamaian dengan lawan-lawan politiknya (kulit putih) dengan memaafkan kesalahan yang terjadi di masa lalu, dengan memaafkan lawan-lawan politiknya yang memenjarakan dia. Dia tampil sebagai tokoh perdamaian yang berani mengambil inisiatif: mengulurkan tangan persahabatan dan mengampuni semua lawan-lawannya tanpa perasaan dendam. Hal ini hanya mungkin terjadi karena Mandela memiliki hati yang sabar dan pengampun serta kasih yang lebih mengutamakan persaudaraan daripada permusuhan.

Tokoh lain yang juga dikenal sebagai tokoh pengampun adalah Johanes Paulus II. Kita tahu bagaimana ia ditembak oleh ”kaki tangan” dinas rahasia Rusia, Ahmed Ali Agqa yang hampir saja merenggut hidupnya. Setelah sembuh Johanes Paulus II pergi mengunjungi penembaknya di penjara. Dia berbicara dari hati ke hati dengan penembaknya dan dengan tulus memaafkan dan memberikan pengampunan kepadanya.

Itulah tindakan luar biasa yang dicontohkan oleh kedua tokoh dunia ini yang sungguh dapat menjadi contoh nyata dalam usaha kita untuk mau saling memaafkan dan saling mengampuni satu sama lain. Dengan kesediaan untuk saling memaafkan dan mengampuni maka relasi dan hidup bersama akan berjalan pada jalan yang baik, kasih dan persaudaraan akan hidup kembali, kerjasama akan menjadi lebih mudah. Dengan pengampunan akan ada damai di dalam hati; damai yang pada gilirannya akan membawa sukacita dan kegembiraan dalam hidup.

Oleh:  Rm. I Ketut Adi Hardana, MSF

You may also like...

2 Responses

  1. leo says:

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul ” PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA MERAJUT KEMBALI RELASI DAN KOMUNIKASI YANG HARMONIS ANTAR SESAMA ANGGOTA KELUARGA “.
    Saya juga mempunyai E-book yang mungkin anda butuhkan dan sesuai dengan judul artikel yang anda buat. E-book Komunikasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *