Paus Fransiskus: Keluarga perlu Berdoa, Berbelarasa dalam Menghadapi Tantangan

Paus Fransiskus: Keluarga perlu berdoa, berbelarasa dalam menghadapi tantangan thumbnail

Mendorong  keluarga-keluarga selama Misa 6 Juli di Guayaquil, Paus Fransiskus mengajak umat Katolik berdoa bagi Sinode Para Uskup tentang keluarga pada Oktober mendatang, dan ia menetapkan sinode itu dengan Jubileum Belarasa, sebuah perayaan selama setahun yang akan dimulai pada Desember.

Sinode itu akan menjadi kesempatan bagi Gereja “memperdalam penegasan spiritual dan mempertimbangkan solusi konkret terkait banyaknya tantangan yang sulit dan signifikan yang dihadapi keluarga di zaman kita,” kata Paus.

Merayakan Misa bersama sekitar 1 juta orang yang berkumpul di bawah terik matahari di Los Samanes Park, Paus Fransiskus meminta mereka “berdoa dengan sungguh-sungguh untuk sinode   ini”.

Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, mengatakan kepada para wartawan bahwa Paus Fransiskus tidak mengacu pada usulan spesifik dalam mengantisipasi sinode; salah satu yang paling umum – saran pastoral dan paling diperdebatkan – mengembangkan proses atau “jalan pertobatan” bagi umat Katolik  yang bercerai dan menikah lagi secara sipil  yang ingin menerima Komuni, tapi belum menerima pembatalan nikah.

Paus, kata Pastor Lombardi, berharap sinode itu “akan menemukan cara membantu orang berpindah dari situasi dosa ke situasi berahmat.”

Paus Fransiskus mengakui penderitaan dan harapan orang-orang muda yang tidak mengalami kebahagiaan dan cinta di rumah, “banyak perempuan yang sedih dan kesepian.”

Dalam sebuah keluarga, “tidak ada yang ditolak, semua memiliki nilai sama,” katanya, seraya mengatakan  ketika ia meminta ibunya sendiri untuk lima anaknya yang dicintainya, dia akan mengatakan bahwa mereka seperti lima jari: semua penting dan jika salah satu jari terluka, rasa sakit akan sama seperti jika jari lain terluka.

Meskipun cuaca panas, Paus berusia 78 tahun itu sangat bersemangat, ceria dan lucu  dalam membawakan homilinya tentang keluarga.

Sukacita pesta perkawinan di Kana, kata dia, dimulai ketika Maria memperhatikan kebutuhan orang lain “dan bertindak bijaksana dan berani.”

Seluruh cerita keterlibatan Allah dengan manusia, katanya, menunjukkan bahwa dia selalu berusaha keluar menjangkau orang-orang di pinggiran masyarakat.

Keluarga yang kuat, kata Bapa Suci, membantu membangun individu yang kuat dan masyarakat yang kuat. Mereka adalah tempat di mana “hati kita mendapat ketenangan cinta yang kuat, berbuah dan menyenangkan.”

Keluarga mengajarkan orang untuk peduli pada kebutuhan orang lain dan menempatkan kebutuhan mereka menjelang sendiri.

“Pelayanan adalah tanda cinta sejati,” kata Bapa Suci.

Sumber: ucanews.com

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *